Bom Medan dan Gerakan Teroris Melalui Aplikasi Telegram -->

Advertisement

Bom Medan dan Gerakan Teroris Melalui Aplikasi Telegram

infobaru.net
Thursday, November 14, 2019

loading...

Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Info Baru.Net- Era digital saat  ini tentunya banyak berperan dalam hampir segala bidang kehidupan manusia. Perubahan gaya hidup juga terjadi, seperti cara bersosialisasi, memunculkan wacana-wacana, transaksi jual-beli, memanfaatkan teknologi keuangan, dan  sebagainya, sudah semakin terlihat. Hal ini didukung dengan munculnya bebagai macam media sosial, portal berita daring, e-commerce, dan fintech yang semakin luas digunakan oleh masyarakat pada kehidupan sehari-hari. Seiring perkembangan dan kebutuhan masyarakat akan digitalisasi, ada hal yang menarik jika kita mengamati dari sisi negatif, yaitu pergerakan teroris dengan memanfaatkan fitur platform  Telegram.

di kutip dari situs berita Tagar.id Pengamat terorisme dari jurnal Intelijen,Stanislaus Riyanta berpendapat

saat ini para pelaku teroris aktif berkomunikasi menggunakan aplikasi pesan singkat Telegram, dengan alasan sukar dilacak pihak Kepolisian

Para teroris selalu berkamuflase, menggunakan trik baru untuk mengecoh polisi siber dan pihak intelijen. Teknologi yang sangat berkembang sekarang ini menurutnya dimanfaatkan betul oleh para teroris yang melek mata terhadap perkembangan teknologi


terlebih dengan berlakunya Undang-undang (UU) Terorisme nomor 5 tahun 2018 tentang pencegahan dan pelacakan komunikasi. Menurut dia, para teroris yang sebelumnya menggunakan aplikasi WhatsApp, kini harus beralih menggunakan Telegram, agar tidak mudah dilumpuhkan sebelum menyerang. Jelasnya.


dari hasil penelusuran,Portal InfoBaru.Net akan mengulas apa kelebihan dan keistimewaan aplikasi Telegram dibandingkan dengan aplikasi media pesan instan lainnya sehingga aplikasi Telegram menjadi Aplikasi Favorit Teroris.


Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO layanan pesan Instan Telegram mengklaim, Telegram menjunjung tinggi faktor keamanan privasi yang memang sudah lekat dan menjadi ciri khas Telegram semenjak dirilis beberapa tahun silam,


layanan chatting Telegram selalu mengedepankan diri sebagai platform messaging yang aman dari intipan pihak lain. Fiturnya dalam hal ini termasuk enkripsi end-to-end yang mencegah pesan dicegat dan dibaca, kecuali oleh pengirim dan penerima.


selain itu fitur Channels di aplikasi Telegram bersifat terbuka untuk publik dan bebas diikuti oleh pengguna lain (follower). Karena itu pula, channels sering digunakan oleh teroris sebagai sarana untuk menyebar propaganda, dengan cara broadcast konten. Ada juga groups, private message, dan Secret Chat.


Fitur Secret Chat ini terbilang istimewa karena menerapkan enkripsi client-to-client. Semua pesan yang terkirim dienkripsi dengan protokol MTProto.


berbeda dari pesan biasa di Telegram yang bisa diakses dari berbagai perangkat karena berbasis cloud, pesan Secret Chat hanya bisa diakses melalui dua perangkat, yakni perangkat pengirim yang menginisiasi percakapan dan perangkat penerima.


isi percakapan bisa dihapus kapan pun, atau diatur agar terhapus secara otomatis.


faktor alasan inilah  mengapa para teroris menyukai aplikasi Telegram untuk berkomunikasi, seperti beberapa kejadian di berbagai negara termasuk Indonesia, antara lain, digunakan untuk berkomunikasi oleh pelaku serangan di Paris pada 2015, serangan malam tahun baru 2017 di Turki, dan serangan di St. Petersburg pada April 2017.


di Indonesia, sejumlah tersangka terorisme yang ditangkap pada desember 2016 mengaku belajar membuat bom dengan mengikuti arahan lewat Telegram.


pasca ledakan bom di medan 13 November 2019 siang kemarin,Kapus Ilmu Kepolisian Dan Kajian Terorisme UI Benny Mamoto mengatakan, sejumlah aksi teror belakangan ini terungkap fakta bahwa para teroris bekomunikasi menggunakan aplikasi Telegram.


Karopenmas Div Humas Polri Dedi Prasetyo mengungkapkan, sampai saat ini Pihak kepolisian masih terkendala untuk  menelusuri jejak komunikasi  digital pelaku melalui Grup Telregram karena flatform Telegram Milik Rusia tersebut masih sulit untuk ditembus, dan ini terjadi hampir di semua Negara ketika menggunakan aplikasi Telegram, kalau platform apalikasi lain istilahnya sudah bisa koorporatif bisa kerjasama sehingga kita bisa memonitor.


Sgt/InfoBaru.Net





Pembaca
Loading...